Awalnya saya sempat antipati terhadap kota ini, sebuah kota di Sumatra bagian selatan tempat dilaksanakannya Sea Games XXVI beberapa bulan yang lalu. Awal saya datang ke kota ini disambut dengan sepinya jalan utama dan sungai besar yang membelah sebagian dari kota Palembang. Bukan sungainya yang mengganggu, tapi berhentinya aliran air di sungai itu dengan sampah yang menggenang sehingga bau tidak sedap tercium di tengah kota, termasuk di dekat sebuah hotel berbintang tempat saya menginap.

Belum selesai dengan keadaan jalannya, ditambah lagi dengan keadaan sebagian pusat perbelanjaan yang jauh dari nyaman, bahkan terasa tidak aman. Saya lebih memilih untuk membawa pulang makanan yang saya pesan untuk di makan di hotel daripada makan langsung di tempat. Kehidupan di kota ini juga terasa sangat singkat, dari pagi hingga senja, kembali malam hari terasa kurang nyaman untuk berjalan kaki menikmati suasana malam di Palembang.

cap-go-meh-pulau-kemaro
sungai-musi
kemaro-perahu

Tetapi itu adalah kesan pertama saya, kedua kalinya datang ke Palembang, saya diajak untuk menikmati makanan khas dari kota ini, sebuah masakan berbumbu durian yang terasa sangat berbeda dengan makanan lain yang pernah saya cicipi. Selain itu saya juga diajak untuk mengunjungi Pulau Kemaro, sebuah pulau kecil yang bisa dicapai 30 menit dari Jembatan Ampera dengan menggunakan perahu motor. Saat itu kebetulan sedang ada perayaan Cap Go Meh di pulau ini. Suasana yang berbeda sangat terasa saat perayaan ini, tidak hanya digunakan sebagai sarana beribadah tapi juga mampu menarik wisatawan untuk mengunjungi pulau ini.

jembatan-ampera-00
jembatan-ampera-01

Sepulang dari pulau ini, saya menunggu senja sambil menikmati ย tekwan, cemilan khas yang dijual di sekitar Sungai Musi. Kemudian kamera disiapkan untuk mengambil foto Jembatan Ampera yang sangat terkenal dari berbagai sisi dengan teknik long exposure, tujuannya agar gambar yang didapat lebih detil dengan bayangan cahaya yang lembut tertangkap oleh kamera. Malam hari telah tiba, angkutan umum mulai langka dan saya pun berjalan kaki cukup jauh hingga bertemu dengan taksi non argo dengan tarif 4 kali taksi argo untuk mengantarkan saya ke hotel tempat saya menginap.