Seiring dengan berkembangnya teknologi proyektor digital yang telah dipergunakan secara luas di bioskop dunia, termasuk Indonesia, kini penggunaan kamera digital mulai banyak digunakan oleh pembuat film untuk melengkapi penggunaan film analog pita seluloid yang telah sejak lama dikenal. Dipilih karena keringkasan dan juga kualitasnya yang semakin baik, kamera DSLR seperti Canon 5D Mark III digunakan untuk pengambilan gambar dengan sudut yang ekstrim yang mungkin sulit diambil dengan menggunakan sistem kamera seperti Panavision.

Akhir tahun ini, Canon Indonesia melalui datascrip meluncurkan 3 kamera seri terbaru yang dapat mengambil resolusi video hingga 4K, 4096×2160 atau 4 kali resolusi HD (High Definition). Ketiga kamera tersebut adalah EOS C300, EOS C500 dan EOS-1DC. Untuk melengkapi peluncuran ini, Canon Indonesia mengadakan Seminar Sinematografi: Film Making with Canon Cinema EOS 4K System dengan pembicara praktisi film Shane Hurlbut, ASC dan Po Chan di Epicentrum XXI. Mereka telah banyak bekerjasama, diantaranya film pendek The Ticket yang diambil dengan menggunakan EOS-1DC.

Pada seminar ini juga ditampilkan di balik layar pembuatan film The Ticket yang mempu memvisualisasikan screenplay dengan pengambilan gambar yang tidak biasa ke dalam media film digital. Penampilan close-up yang detil, pengambilan gambar low-angle, juga adegan berlari yang diinginkan bisa dicapai dengan menggunakan EOS-1DC. Selain The Ticket, sebuah film pendek berjudul Man and Beast yang diangkat dari kisah nyata juga ditampilkan, lengkap dengan cerita di balik layarnya, yang sepenuhnya diambil dengan kamera EOS C500.

Selain film pendek, film Hollywood berjudul Act of Valor yang mengangkat kisah kepahlawanan tentara Amerika juga mempercayakan sebagian adegannya dengan menggunakan kamera DSLR. Sekitar 15 buah kamera disiapkan untuk mengambil adegan yang sulit dilakukan dengan menggunakan kamera pita seluloid yang berukuran besar. Adegan close-up saat penyerangan, dilakukan dengan memasang kamera pada bahu salah satu pemeran agar mendapatkan gambar yang diinginkan namun masih nyaman bagi sang aktor.

Dengan berkembangnya teknologi ini, sineas dunia dapat memanfaatkannya untuk membuat film yang baik tanpa mengesampingkan kualitas, namun justru dapat mengurangi biaya produksi. Salah satunya karena tidak perlu menggunakan kamera besar yang sangat mencolok perhatian yang biasanya memerlukan ijin khusus saat mengambil gambar di tempat umum.