Tiga.. Dua.. Satu..

Klik!

Kang Wawan pemandu kami mematikan lampu senter sebagai satu-satunya sumber cahaya di dalam Gua Buniayu. Setengah berbisik dia berkata, “Oke, semuanya diam sejenak dan biarkan indera kita yang bekerja, dengarkan gemericik air dan rasakan keheningannya.”

Saya takjub, tidak terasa bedanya antara membuka atau menutup indera penglihatan saya, sama-sama gelap dan tak bisa melihat apa-apa. Saya sedang berada di sebuah gua di dalam perut bumi, dimana sinar cahaya matahari tidak pernah menyentuhnya, hanya aliran sungai, tetesan air dan hembusan angin yang setiap saat menerpanya. Perasaan senang, antusias sekaligus takut bercampur aduk dan membuat saya semakin menghargai nikmatnya diberi indera penglihatan, karena akan seperti inilah rasanya jika tidak bisa melihat sama-sekali.

peta-menuju-goa-buniayu

Terletak di Desa Kerta Angsana, Nyalindung, Sukabumi di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, 120 KM dari Jakarta atau Bandung, Gua Buniayu ini sangat mungkin untuk dijadikan sebagai alternatif tujuan tempat wisata di Bandung atau Jakarta, karena dapat ditempuh dari kedua kota tersebut melalui perjalanan darat sekitar 3-5 jam tergantung kepadatan lalu-lintasnya. Tidak sulit untuk menemukan Gua Buniayu ini, terutama jika dibantu dengan teknologi GPS yang dapat memandu kita untuk tiba di lokasi.

makanan-khas-sukabumi

Setalah 4 jam berkendara kami tiba di lokasi dan langsung disambut dengan makanan khas berupa rebusan singkong (ketela pohon) dengan gula merah dan taburan kelapa parut. Usai menyantap dengan lahap, sebagai perkenalan tentang dunia Gua yang masih terasa asing sebagai objek wisata, kami mendapatkan pengarahan dari Kang Ferry Saputra, seorang speleologis yang bertugas di Gua Buniayu ini.

speleologis-kang-ferry

Beliau menerangkan tentang bagaimana Gua ini ditemukan dan di eksplorasi sebagai tujuan wisata sekaligus pendidikan, rekreasi dan petualangan yang berbeda, memacu adrenalin sekaligus mendapatkan ketenangan di sisi lainnya. Tidak lupa pula himbauan untuk terus menjaga kelestarian agar generasi mendatang masih bisa menikmati sensasi dan keindahan dari Gua Buniayu ini.

Sebagai pemanasan, kami terlebih dahulu menelusuri salah satu gua vertikal yang ada di kawasan wisata ini, berbekal helm dan sepatu boot yang disediakan oleh pihak pengelola. Gua ini mempunyai tingkat kesulitan yang rendah sehingga sangat cocok untuk siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

menjelajahi-goa-vertikal

“Gua ini pernah dijadikan sebagai salah satu lokasi Jambore, sehingga diberi pagar dan lampu penerangan”, sebut Kang Ferry di sela-sela perjalanan kami. Ya, masih terlihat pagar yang telah rusak dan tak terpakai, juga jalur listrik dengan lampu yang sudah tidak dapat menyala. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaganya membuat infrastruktur ini rusak dan perlu perbaikan.

goa-buniayu-sukabumi

menuju-goa-buniayu

“Ada 3 zona di dalam gua pada umumnya, yaitu zona terang, remang-remang dan gelap abadi”, kembali Kang Ferry menerangkan, perbedaannya terletak pada intensitas cahaya yang terdapat di dalam gua. Pada zona remang-remang, sesekali masih mendapatkan cahaya, entah dari lubang ataupun pantulan dari zona terang. Beliau juga membahas tentang proses pembentukan batuan gua, stalakmit dan stalaktit yang terbentuk dari tetesan air yang mengandung kapur.

perjalanan-menuju-goa-vertikal

Usai menjelajahi goa horizontal, kami beristirahat sejenak sementara Kang Ferry menyiapkan dry suit atau pakaian yang akan melindungi pakaian kami dari air dan lumpur, yang sekilas tampak seperti petugas pertambangan. Setelah semuanya siap, kami melanjutkan perjalan menuju gua vertikal dimana satu-persatu diturunkan menggunakan tali dan bersiap untuk menjelajahi gelapnya gabungan antara gua vertikal dan horizontal yang dialiri sungai dan berlumpur.

Petualangan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Menelusuri gua yang gelap dengan berbekal lampu senter sangatlah menarik, menantang dan memacu adrenalin. Sesekali kami harus melewati sungai dengan ketinggian air mulai dari 10-80 cm, merangkak diantara batuan kapur dan berlumpur, juga merasakan tetesan air yang menyejukkan. Tak ada lagi kesempatan untuk menghindarinya, dry suit yang semula bersih menjadi penuh lumpur dari ujung kaki hingga kepala.

laba-laba-goa-buniayu

Sesekali Kang Wawan berhenti sejenak untuk beristirahat sambil membiarkan kami untuk merasakan sensasinya. Saat menemukan hewan yang jarang dijumpai di luar, beliau menerangkannya dengan seksama, salah satunya adalah laba-laba pada gambar di atas, yang katanya hidup di zona gelap abadi dan tidak pernah tersentuh cahaya matahari. Berdasarkan penelitian, indera penglihatan dari hewan tersebut telah berevolusi sehingga sangat tidak sensitif, namun indera lainnya menjadi lebih peka dan sensitif terhadap gerakan dan getaran.

Seperti yang sebelumnya saya sebutkan, hal yang sangat menarik bagi saya adalah saat dimana semua sumber cahaya dimatikan. Suasana gua menjadi gelap gulita, saya hanya mendengar suara gemericik dari air sungai dan tetesan air. Wisata ini mungkin akan menjadi teror untuk orang yang mempunyai ketakutan berlebihan di ruang tertutup atau klaustrofobia, namun bagi sebagian besar wisatawan bisa menjadi alternatif liburan dan hiburan yang menarik dan berbeda dari biasanya. Perjalanan 3-4 jam menelusuri gua yang basah, gelap dan berlumpur menjadikan perjalanan ini istimewa, karena di akhir perjalanan terasa sangat bahagia ketika keluar dan melihat cahaya matahari kembali. Tak perlu khawatir tentang keselamatan karena didampingi oleh pemandu yang profesional di bidangnya, tak perlu juga takut untuk kotor, karena setelahnya bisa membersihkan diri di air terjun dan sungai yang terletak tak jauh dari mulut gua.

Lagipula, kalau ngga kotor, ngga belajar, katanya. Selamat berwisata gua di akhir pekan.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi Kang Ferry Saputra melalui tautan berikut Buniayu Cave – Let’s Get Under.