Berdiri tegak menjulang hingga ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut, menjadikan Gunung Rinjani sebagai gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatra. Terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Gunung Rinjani dengan gagahnya mengundang pecinta alam untuk menikmati alam beserta keindahannya dari kaki gunung hingga ke puncaknya.

Setelah sekian lama membayangkan pergi kesana, hari ini saya memulai perjalanan untuk mendaki Gunung Rinjani, bersiap menikmati keindahan perjalanannya, dan berjuang untuk menapaki puncaknya. Pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Lombok di Praya jam 9 malam dan langsung dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Desa Sembalun Lawang yang terletak di kaki Gunung Rinjani.Β Hari ini sudah terlalu malam untuk melihat puncaknya, yang terlihat adalah cerahnya langit berhiaskan bintang, esok saya akan menikmati semua keindahan ini dari atas sana. Malam pertama ini saya gunakan untuk beristirahat di Lembah Rinjani Hotel, di Desa Sembalun Lawang.

Rinjani-01

Pagi ini cuaca cenderung mendung, usai sarapan saya bersiap untuk memulai perjalanan. Bersama 2 teman, seorang pemandu dan 3 porter dari Trekking Rinjani, langkah saya dimulai. Tidak mempunyai sepatu khusus trekking tidak menjadi halangan, saya menggunakan sepatu yang paling nyaman yang biasa saya gunakan untuk berlari sebagai gantinya. Perlengkapan pribadi, pakaian, dan obat-obatan telah tersusun rapi di dalam ransel 42 liter yang biasa saya bawa untuk backpacker, dengan pertimbangan tenaga dan kurangnya persiapan fisik yang saya lakukan, tenda, sleeping bag, beserta bahan makanan dibawa oleh porter yang sekaligus akan menjadi juru masak selama perjalanan. Saya mengambil paket 5 hari 4 malam untuk menuju puncak Gunung Rinjani, menginap semalam di Lembah Rinjani Hotel dan 3 malam di Gunung Rinjani.

Tak terasa 3 jam perjalanan berlalu, saya tiba di Pos 1 Sembalun jam 10 pagi. Padang ilalang, kawanan sapi dan kabut yang melintas menemani saya menuju pos ini, sesekali saya pandangi puncak Gunung Rinjani untuk tetap menjaga semangat. Setelah beristirahat sejenak, 1 jam kemudian saya tiba di Pos 2 Tengengean, kembali beristirahat dan sekaligus makan siang. Perjalanan kembali diteruskan, kabut tipis menemani langkah saya disertai dengan gerimis. Saya bersyukur hari ini cuaca ramah dan bersahabat, 2 jam kemudian saya tiba di Pos 3 (Extra) Sembalun, beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.

Rinjani-02

Perjalanan setelah Pos 3 (Extra) Sembalun ini adalah rute yang lebih berat dari sebelumnya, tanjakan curam tiada henti, puncak bukit diikuti oleh puncak lainnya seakan tiada akhirnya. Rute ini dikenal oleh pendaki sebagai 7 Bukit Penyesalan, entah benar ada 7 bukit atau tidak, bukan saat yang tepat untuk menghitung demi membuktikannya, yang penting menjaga semangat dan terus berjalan mengikuti rute yang ada. Dua setengah jam kemudian, jam 4.30 sore saya tiba di Puncak Plawangan Sembalun, 2.639 meter di atas permukaan laut. Hari masih senja, saya bisa menikmati terbenamnya matahari yang biasnya menyapu Gunung Rinjani hingga perlahan berganti malam, tempat ini menjadi penginapan malam kedua saya di Gunung Rinjani.

Rinjani-03

Rinjani-08

Tak banyak yang bisa dilakukan hari ini, setelah makan malam, saya beristirahat lebih cepat dari biasanya karena dini hari nanti saya harus segera bangun untuk menuju puncak. Jam 2.30 pagi saya dibangunkan oleh Pak Idah yang akan menjadi guide saya menuju ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut yang menjadi puncak tertinggi Gunung Rinjani. Sudah banyak pendaki lainnya yang memulai perjalanan, yang terlihat dari lampu yang menyala di kejauhan. Normalnya pendaki mulai berangkat jam 1-2 pagi, namun karena saya berangkat sendiri dan Pak Idah melihat stamina saya cukup baik, kami baru berangkat jam 3 pagi. Rute menuju puncak harus melewati pasir dan bebatuan, di beberapa tempat bahkan saya harus berjalan di pinggir jurang yang menuju ke dasar gunung. Jam 5 pagi, matahari mulai menampakkan sinarnya, perlahan samar terlihat di balik puncak, beberapa ratus meter lagi dari puncak, nafas yang terengah dan kaki yang mulai lelah saya paksakan agar dapat menikmati keindahan fajar dari Gunung Rinjani. 15 menit kemudian saya berada di ketinggian 3.726 meter, haru, sedih, dan bahagia bercampur jadi satu. Saya bersama puluhan pendaki lainnya berkumpul dan bergantian mengabadikan momen masing-masing saat di atas puncak.

Rinjani-04

Rinjani-10
Belum puas mengabadikan momen di puncak gunung, Pak Idah menyarankan untuk segera turun menuju tenda, medan pasir akan menjadi lebih berat setelah banyak yang melewati, begitu katanya. Kami kemudian bersegera untuk turun, menuju Plawangan Sembalun, sarapan dan beristirahat sebentar sebelum meneruskan perjalanan ke Danau Segara Anakan. Perjalanan menuju Danau ini berlangsung hingga senja, hujan dan rute yang sulit dilewati menjadi penyebabnya. Menuruni jalan setapak penuh bebatuan, medan terjal hampir 80 derajat, bebatuan licin dan tumbuhan beracun adalah sebagian hal yang saya temui di sepanjang jalan. Penyemangat saya adalah pemandangan yang sangat indah dan perasaan senang karena baru saja turun dari Puncak Gunung Rinjani. Saya tiba menjelang senja, membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam dan beristirahat. Malam ini saya menginap di pinggir Danau Segara Anakan.

Rinjani-05

Rinjani-06

Rinjani-07

Rinjani-09

Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Senaru, melewati Batu Ceper. Plawangan Senaru ini menjadi penginapan saya malam ini sebelum besok kembali ke Lombok. Kembali saya perlu ekstra hati-hati menapaki setiap langkah rute yang dilewati, jika di hari sebelumnya medan terjal menuju arah turun, hari ini adalah kebalikannya, rute menuju Plawangan Senaru banyak melewati medan dengan kemiringan 60-80 derajat, di beberapa tempat masih tersisa pegangan sebagai alat bantu menuju ke atas. Disini saya perlu lebih fokus dan menuruti petunjuk pemandu agar selamat sampai ke tujuan. Jam 2 siang saya tiba, dan bersiap untuk makan dan beristirahat. Menikmati indahnya puncak gunung dan Danau Segara Anakan dari atas bukit, pemandangan yang sebanding dengan usaha untuk menuju tempat ini.

Rinjani-11

Rinjani-12

Rinjani-13

Rinjani-14

Setelah menghabiskan malam terakhir di Plawangan Senaru, keesokan paginya saya meneruskan perjalanan menuju Desa Senaru untuk kembali pulang. Rute yang dilalui adalah jalan setapak terkadang berbatu dan diakhiri dengan rute yang biasa dilewati pengunjung untuk trekking. Jam 12 siang saya tiba di Desa Senaru, mobil jemputan sudah menunggu untuk mengantar saya kembali ke Lombok.

Rinjani-15

Rinjani-16

Menapaki Gunung Rinjani menjadi sebuah pengalaman baru yang sangat berkesan di tahun ini, perjalanan disaat hujan, rute yang terjal dan berbatu, sengatan matahari dan terpaan angin, hingga tiba di puncaknya dengan segenap tenaga dan tidak menyerah untuk menikmati semua keindahannya adalah sebuah hal yang akan selalu saya ingat. Selamanya.

Gunung Rinjani, Lombok, Juni 2013