Namanya Mao, dia adalah seorang pengemudi motodop (sejenis ojek) dan tuk-tuk (becak bermotor) di kota Siem Reap, Kamboja. Awalnya dia adalah seorang petani di desanya, dengan menerima ajakan dari kawannya untuk belajar bahasa Inggris di sebuah kuil, akhirnya setelah fasih dan mampu berkomunikasi dia memutuskan untuk bergerak di bidang pariwisata di Siem Reap. Orangnya rendah hati dan informatif. Saya merasa beruntung bertemu dengannya saat tiba di Bandara Internasional Siem Reap karena motodop yang tadinya saya kira hanya akan mengantarkan ke hotel bergeser menjadi pemandu tur selama 2 hari di kota ini. Tidak puas dengan tarif 2 USD dari bandara menuju pusat kota yang masih dipotong iuran bulanan kepada pihak pengelola di bandara, Mao berusaha untuk menawarkan paket tur terbaiknya pada setiap wisatawan yang datang ke kota ini, termasuk saya. Tertarik dengan penawaran dan harga untuk full day tour, saya pun memutuskan untuk menggunakan jasanya selama berada di Siem Reap.

Perkenalan tersebut adalah sepenggal kisah dari perjalanan saya ke Kamboja dan Vietnam yang telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya bersama beberapa orang teman. Namun menjelang keberangkatan, pekerjaan yang tidak dapat ditinggal membuat keduanya batal berangkat sehingga saya memutuskan untuk tetap pergi walaupun sendiri. Banyak hal yang saya dapatkan ketika melakukan perjalanan ini. Salah satunya dengan bepergian seorang diri alias solo traveling membuka sudut pandang menjadi lebih luas karena tidak terpaku pada lingkungan yang telah dikenal sebelumnya, merasa dekat dan nyaman dengan teman seperjalanan misalnya. Berlama-lama di satu spot yang menarik perhatian, mengeksplorasi daerah tujuan lebih dalam, berkenalan dengan lebih banyak warga lokal atau wisatawan lain adalah beberapa hal yang bisa didapat ketika bepergian seorang diri.

Tentunya di balik kelebihan, ada kekurangan. Yang paling dirasakan adalah membengkaknya budget traveling, biaya yang tadinya akan dibagi rata harus saya tanggung sendiri selama berwisata, terutama di sisi akomodasi dan transportasi. Akomodasi ini bisa disiasati dengan mencari penginapan model dormitory yang menampung 4 hingga 8 orang, atau bagi yang keberatan menginap dengan orang yang belum dikenal bisa menyewa penginapan dengan fasilitas terbatas, tanpa AC dan air panas misalnya. Untuk transportasi sendiri untuk menjelajahi kota Siem Reap sangat banyak pilihannya, dimulai dari berjalan kaki menuju setiap obyek wisata, bersepeda, menggunakan motodop, tuk-tuk, taksi, hingga bergabung dengan tur dengan bis mewah. Semuanya tergantung obyek wisata yang ingin dituju dan budget yang akan dikeluarkan.

Travel Note Kamboja 01

Tuk-tuk merupakan transportasi paling umum di Siem Reap, wisatawan dapat meminta untuk mengantarkan satu arah maupun menyewa secara harian.

Saya memilih untuk menyewa tuk-tuk sehari penuh karena pertimbangan waktu tempuh yang lebih singkat sehingga diharapkan kompleks Angkor Wat yang tersohor dan beberapa objek menarik lainnya di Siem Reap bisa saya kunjungi. Untuk menyewa sehari penuh saya merogoh kocek sebesar 15 USD, sang pengemudi dengan sabar akan mengantar dan menunggu di lokasi yang telah disepakati mulai dari pagi hingga malam. Berikut ini beberapa obyek wisata yang sayang untuk dilewatkan ketika berada di Siem Reap, Kamboja.

Old Market

Pasar ini menjadi One-Stop-Shopping ketika berada di Siem Reap. Bisa dibilang mau mencari apa saja bisa ditemukan disini. Mulai dari buah-buahan, makanan ringan, pakaian, perkakas, hingga oleh-oleh khas Kamboja bisa dengan mudah didapat. Yang perlu dilakukan adalah menelusuri setiap lorong dan menawar harganya, sangat cocok bagi wanita yang belum puas jika produk yang dibelinya tidak melewati tahap tawar-menawar. Walaupun rata-rata penjualnya dapat berbahasa Inggris, tak ada salahnya untuk menyiapkan kalkulator atau ponsel anda untuk menunjukkan tawaran harga.

Travel Note Kamboja 02

Ornamen kepala naga seperti ini banyak ditemukan baik dalam transportasi tradisional maupun pada candi-candi di kompleks Angkor.
Cambodian Cultural Village

Cambodian Cultural Village adalah sebuah kawasan yang di dalamnya terdapat tiruan dari berbagai desa yang ada di Kamboja. Beberapa desa tersebut diantaranya Cham Village, Chinese Village, Kola Village, Knoeng Village, Khmer Village, Phnong Village dan Floating Vilage. Selain peninggalan kebudayaan dari masing-masing desa dalam bentuk lukisan, miniatur, rumah adat, dan beragam kerajinan tangan, pada jam tertentu juga terdapat pertunjukan berupa tarian daerah khas dari masing-masing desa. Setelah lelah berjalan singgah di setiap desa, pengunjung dapat menikmati beberapa kedai yang menjual makanan dan minuman ringan, mengunjungi restoran untuk bersantap siang, atau membeli oleh-oleh di toko yang menjual suvenir khas Kamboja.

Travel Note Kamboja 03

Lukisan yang menunjukkan kebudayaan Kamboja beserta peninggalannya yang terdapat di Cambodian Cultural Village.
Kota Angkor

“Oh, Saya tidak menyadarinya”, Ujar salah seorang turis saat sang pemandu menjelaskan bahwa Kota Angkor yang terlihat megah ini ternyata belum selesai pembangunannya karena pergantian dinasti. Sebuah kota peninggalan kerajaan Khmer yang pernah hilang tertutup hutan belantara kini terbentang luas dan masih terasa kemegahannya. Untuk menjelajahi keseluruhan kompleks tidak cukup hanya dengan satu hari eksplorasi, oleh karena itu pihak pemerintah menawarkan berbagai pilihan tiket terusan untuk mengunjungi Angkor ini. Tiket seharga 20 USD untuk 1 hari, 40 USD untuk 3 hari dan 60 USD untuk 7 hari bisa dipilih tergantung seberapa banyak bagian peninggalan sejarah yang ingin dijelajahi. Jika waktunya terbatas, bisa dipilih beberapa candi yang terkenal seperti Angkor Wat, Angkor Thom, Ta Som, Ta Prohm, Bayon dan Baphuon.

Angkor Wat

Kapanpun waktu kunjungan ke Angkor Wat, suasana yang didapat akan tetap indah dan berkesan. Mulai dari matahari terbit hingga terbenam dapat dipilih sesuai keinginan dan target yang hendak dicari. Saya sengaja datang ke candi ini pada pagi hari sebelum fajar, untuk mendapatkan suasana yang indah dan dramatis saat matahari terbit di balik Angkor Wat dan pantulannya tercermin pada danau yang ada di dekatnya. Usahakan untuk tiba sepagi mungkin untuk mendapatkan spot terbaik karena semakin siang, pengunjung yang datang semakin banyak dan bisa menghalangi pandangan saat memotret. Untuk menjelajahi keseluruhan candi diperlukan waktu yang cukup lama karena luasnya area tempat candi ini berada. Pastikan untuk menyediakan lebih banyak waktu pada candi ini. Pada siang hari, bahkan terlihat antrian wisatawan yang ingin naik ke candi utama yang berada di bagian belakang.

Travel Note Kamboja 04

Fajar di Angkor Wat

Travel Note Kamboja 05

Ornamen Penjaga Angkor Wat
Angkor Thom

Tak jauh dari Angkor Wat, saya tiba di Angkor Thom. Sebuah candi yang juga terlihat megah, dimana beberapa bagian dari candi nampak berantakan menunggu proses pemugaran. Namun begitu, candi utamanya bisa di eksplorasi dengan memasuki atau mengelilingi bagian candi.

Travel Note Kamboja 06

Angkor Thom
Baphuon

Masih terletak di dekat Angkor Thom terdapat Baphuon yang menurut catatan sejarah pernah menjadi monumen tertinggi yang mencapai 50 meter sebelum akhirnya runtuh. Candi ini belum sepenuhnya di restorasi, namun sebagian besar bentuknya sudah terlihat rapi.

Travel Note Kamboja 07

Baphuon

Travel Note Kamboja 08

Candi yang masih tertutup pepohonan lebat, membuat kesan kota yang hilang semakin terasa.
Ta Som

Candi yang dulunya berfungsi sebagai biara ini mempunyai pemandangan yang unik karena gapura yang terdapat di sekitar candi tertutup oleh akar pohon.

Travel Note Kamboja 09

Ta Som

Travel Note Kamboja 10

Gapura, Pintu dan Candi terlihat menarik dengan ornamen yang detil dan utuh.
Ta Prohm

Merupakan candi yang paling istimewa karena disini orang-orang rela untuk mengantri hanya untuk berfoto di depannya. Tak salah memang karena beberapa sudut candi tertutupi oleh akar pohon yang sangat besar. Jika pernah menyaksikan film Tomb Raider akan terasa seperti de ja vu saat melihat candi ini.

Travel Note Kamboja 11

Ta Prohm

Tak lengkap berwisata rasanya jika belum menemukan kepercayaan adat setempat. Seperti halnya mitos menyentuh Budha yang berada dalam stupa di Candi Borobudur, di sini pun beredar mitos bahwa keinginan akan terkabul jika kita bisa membuat candi dari tumpukan batu-batu yang berserakan di sekitar candi. Saya menemukan banyak candi mini di berbagai sudut di sekitar candi utama, yang saya rasa berkaitan dengan mitos ini. Awalnya saya menduga ini adalah perbuatan iseng dari anak-anak yang berjualan di sekitar candi, namun setelah mendengar mitos ini, mungkin merupakan hasil dari wisatawan yang sedang mengharapkan sesuatu agar segera terwujud.

Travel Note Kamboja 12

Candi Mini

Jadi, siap untuk solo traveling?