Jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya sendiri sudah menjadi impian banyak orang, terutama yang baru bekerja setelah lulus kuliah. Sebelum impian tersebut tergeser akibat banyaknya keperluan dan keinginan lain, ada baiknya berusaha untuk mewujudkannya sesegera mungkin. Membeli tiket jauh-jauh hari ketika ada promo dari maskapai penerbangan, dapat dilakukan untuk menyiasati budget agar mendapatkan biaya tiket pesawat dengan harga lebih murah sehingga dana bisa dialokasikan ke hal lain selama perjalanan.

Namun banyak hal yang tak sesuai harapan terjadi menjelang keberangkatan. Mulai dari teman yang mendadak sakit ataupun yang tiba-tiba tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Hal seperti itu bisa membuat rencana liburan terancam batal. Lalu mengapa tidak mencoba berpetualang seorang diri saja? Negara-negara di Asia, Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja dan Vietnam adalah beberapa negara yang telah lama dikenal sebagai surganya para backpacker dunia, entah sebagai tempat transit maupun negara tujuan. Negara-negara tersebut cukup nyaman untuk dipilih dan dijelajahi karena begitu banyak turis dari seluruh dunia yang berkunjung kesana.

Angkor Thom

Angkor Thom

Pada edisi ini, saya akan menceritakan pengalaman saya melakukan solo travelling ke Kamboja dan Vietnam sebagai tujuan utamanya. Kedua negara ini terkenal akan wisata budaya, sejarah dan kulinernya. Dengan bonus, kedua negara ini tidak menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa sehari-harinya sehingga perjalanan lebih menantang. Saya mengambil perjalanan malam hari dengan rute Jakarta – Kuala Lumpur yang akan dilanjutkan dengan pesawat menuju Siam Reap keesokan paginya. Jeda penerbangan sekitar 5 jam bisa diisi dengan beristirahat di hotel di sekitar bandara. Atau demi menghemat budget bisa bersantai di kedai kopi yang buka 24 jam sambil mencari info tambahan tentang negara tujuan dengan memanfaatkan akses internet gratis. Setibanya di Siem Reap International Airport jam 8 pagi, ada beberapa pilihan transportasi menuju ke pusat kota. Motodop (ojek) dan taksi merupakan transportasi resmi dari bandara setempat dengan tarif flat 2 USD untuk motodop dan 7 USD untuk taksi. Tersedia pula tuk-tuk (sejenis becak motor) yang tarifnya perlu disepakati di awal dengan rentang harga diantara tarif motodop dan taksi tadi.

Tak perlu bingung untuk mencari tahu kemana tujuan wisata terbaik di Siem Reap karena informasinya bisa didapat dengan mudah. Saya sendiri mendapatkan informasi dari sang pengemudi motodop yang mengantar ke hotel tempat saya menginap. Dengan ramah dia menawarkan paket wisata yang sesuai dengan budget saya selama berada di sana. Saya mengambil paket dua hari menggunakan tuk-tuk dengan tarif per hari 15 USD. Di hari pertama saya diantar menuju old market, Cambodian Cultural Village, melihat sunset di Angkor Wat, dan kembali ke old market untuk mendapatkan suasana yang berbeda di malam hari. Jika tertarik dengan museum, bisa juga mengunjungi Angkor National Museum. Hari berikutnya saya habiskan dengan mengunjungi objek utama, yaitu kompleks Angkor, sebuah peninggalan kebudayaan kota tua yang kini terjaga dengan baik, mulai dari matahari terbit hingga terbenam. Selain tuk-tuk, motodop, sepeda, tur eksklusif dengan bus besar, atau berjalan kaki bisa dijadikan alternatif untuk menjelajahi Angkor.

Biaya masuk ke kota tua Angkor adalah 20 USD per hari, 40 USD untuk 3 hari, dan 60 USD untuk 7 hari. Saat membeli tiket masuk tersebut, wajah kita akan difoto dan akan tercetak pada tiket, sehingga tiket tidak dapat digunakan oleh orang lain. Ada tips untuk mendapatkan dua kali sunset dengan sebuah tiket daily pass, yaitu sebaiknya tiket dibeli pada sore hari untuk tanggal keesokan harinya. Dengan demikian penjaga akan mengijinkan masuk dimulai pada sore hari tersebut. Angkor Wat, Angkor Thom, Bayon, Preahn Khan, Ta Som dan Ta Phrom yang sempat muncul di film Tomb Raider adalah beberapa candi yang saya kunjungi. Untuk wisata kuliner di Siam Reap, perlu dicoba makanan khasnya yaitu Amok, perpaduan antara ikan dan telur yang ditumis dengan bumbu rempah menyerupai kari dan disajikan di dalam kelapa muda. Rasanya memang tidak sekuat masakan Thailand, namun rasa khas dari daun basil membuatnya unik dan lezat. Makanan utama lainnya yang khas adalah Ji Soup, yang merupakan sup daging dengan (lagi-lagi) rasa daun basil yang kuat, dagingnya bisa dipilih antara ikan, ayam, atau sapi.

Karena waktu yang terbatas, sore harinya saya kembali ke hotel untuk melanjutkan perjalanan menuju Ho Chi Minh City, Vietnam. Untuk menghemat budget, saya menggunakan bis malam dengan tarif 20 USD. Pilihan lainnya adalah menggunakan pesawat terbang. Sayangnya, penerbangan kedua negara ini masih terbatas sehingga tarifnya cukup premium. Akses jalan darat yang belum memadai juga membuat bis ini berjalan dengan kecepatan 30-50 KM/Jam. Saat tiba di Virak Buntham, Phnom Penh, saya harus berganti bis untuk melanjutkan perjalanan menuju Ho Chi Minh City.

Ada sebuah kejadian unik. Di sebuah tempat pemberhentian, salah seorang penumpang kaget dan sempat berteriak melihat toilet yang tersedia sangat kotor dengan air yang keruh.Untuk itu sebaiknya selalu menyediakan tissue basah atau air mineral saat hendak ke toilet untuk tetap menjaga kebersihan. Pagi harinya bis berhenti di Bavet agar penumpang dapat menikmati sarapan, untuk kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di Moc Bai yang berbatasan langsung dan menjadi jalan masuk paling populer di antara kedua negara ini. Seluruh penumpang diharuskan untuk turun membawa seluruh barang bawaannya untuk pemeriksaan di imigrasi. Perjalanan lebih dari 400 KM ini ditempuh dengan waktu 15 jam, termasuk proses imigrasi keluar dari Kamboja dan memasuki Vietnam.

Untungnya di Ho Chi Minh City, bis ini berhenti di distrik 1, tak jauh dari hotel yang saya pesan secara online di hari sebelumnya, sehingga saya hanya perlu berjalan kaki kurang dari 3 menit untuk menuju hotel. Letak tujuan wisata di Ho Chi Minh City yang ingin saya tuju, sebagian besar berada di distrik 1. Saya hanya perlu berjalan kaki saja untuk menjelajahi tempat-tempat tersebut. Menghemat waktu dan biaya juga tentunya. Untuk itu sebaiknya dipilih akomodasi yang juga terdapat di sekitar distrik ini. Beragam pilihan penginapan mulai dari tipe dormitori hingga hotel berkelas bisa dengan mudah ditemukan di sini. Dengan pertimbangan kenyamanan setelah semalaman berada di bus malam, saya memilih untuk menginap di sebuah hotel bintang 2 dengan tarif 26 USD per malam yang saya share bersama salah seorang solo traveler yang mempunyai tujuan sama.

Pho

Pho

Lokasi tujuan wisata di Ho Chi Minh City yang saya kunjungi di antaranya, Reunification Palace, War Remnants Museum, Notre Dame Cathedral, Central Post Office, Town Hall, Opera House, dan Ben Thanh Market. Tak ketinggalan pula mencoba makanan khas Vietnam, Pho, dan juga merasakan suasana kedai kopi yang menyajikan kopi Vietnam. Kedai kopi semacam ini banyak tersebar di penjuru kota. Selain itu juga saya menghabiskan malam dengan mampir di beberapa kios pinggir jalan yang menyajikan seafood atau makanan ringan lainnya. Keesokan harinya yang merupakan hari terakhir, saya bersiap untuk kembali ke Jakarta dengan rute Ho Chi Minh City – Kuala Lumpur – Jakarta. Saat memesan perjalanan ini, penerbangan langsung dari Ho Chi Minh City belum dibuka sehingga saya memutuskan untuk transit di Kuala Lumpur. Namun kini telah tersedia penerbangan Ho Chi Minh City – Jakarta sehingga waktu perjalanan bisa lebih lama dan bisa digunakan untuk mengunjungi tempat wisata lainnya.

Karena bepergian seorang diri, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar perjalanan tetap nyaman tanpa mengurangi tujuan, diantaranya:

  • Bawa barang seringkas mungkin. Hal ini untuk memudahkan mobilitas dan menjaga barang yang dibawa.
  • Jaga fisik dan kesehatan. Bepergian seorang diri menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi dalam menjaga diri dan barang-barang bawaan.
  • Siapkan dana ekstra. Dikarenakan pergi seorang diri, maka biaya yang dikeluarkan benar-benar dari kantong kita sendiri. Tidak ada share budget transportasi, akomodasi, atau biaya lainnya.
  • Menambah informasi saat berkenalan dengan memanfaatkan jejaring sosial. Tujuannya agar mendapatkan gambaran yang lebih dan membuat tingkat kepercayaan meningkat, keuntungannya bisa sharing biaya akomodasi dan transportasi jika ternyata mempunyai tujuan yang sama.
  • Buatlah rencana perjalanan. Walaupun dengan pergi sendiri bisa bebas untuk melakukan apapun yang diinginkan, ada baiknya Anda tetap mengikuti rencana perjalanan yang telah dibuat sebelumnya agar tidak berakhir dengan hanya menumpang tidur di negeri orang.
  • Kenali bahasa setempat. Mengucapkan “halo” atau “terima kasih” dalam bahasa setempat membuat Anda terkesan lebih ramah dan masyarakat lokal lebih merasa dihargai. Siapa tahu juga bisa berguna saat menawar ketika membeli oleh-oleh.
  • Jangan malas untuk mencari referensi. Solo traveling bukan berarti buta sama sekali tentang daerah yang akan dikunjungi. Cukup cari tahu informasi secara umum dan biarkan sisanya menjadi kejutan saat perjalanan. Referensi bisa datang dari teman, internet, majalah atau buku panduan wisata yang kini banyak tersedia.

Info Tiket Masuk:

  • War Remnants Museum: 15.000 VND
  • Reunification Palace: 30.000 VND
  • Cambodian Cultural Village: 15 USD
  • Angkor Wat: 20 USD (1 Hari), 40 USD (2-3 Hari), 60 USD (4-7 Hari)

Teks & Foto: Rizky Ardianto

Dimuat di Hers Magazine Edisi 21/IX 28 November 2012